Terima kasih telah berkunjung ...
Terima kasih telah berkunjung ...

Selasa, 12 November 2013

Keong Cipoet




                                 Tidak ada istimewa hari ini, seperti hari biasa mencoba membuka selembaran demi selembaran buku mata pelajaran, mengirim tugas melalui email, dan praktik animasi di Laboratorium multimedia. Setelah semuanya telah kubereskan mencoba membuka akun fb ku dan ketika profilku terbuka ku mencoba mengetik pada kotak pencarian teman
“ Bintang Tegar Langit”


                                 Senyum kecil yang kupaparkan pada depan layar monitor komputer melihat foto keren yang membuatku merasa berharga memilikinya dan disudut kanan foto itu bertuliskan
“ Keong Cipoet” kata istimewa yang belum pernah ia ceritakan padaku. Ku download foto itu dan kusimpannya pada Flashdisk dan ketika bel pulang berbunyi, menempuh sekitar 1 km dengan berjalan kaki menuju percetakan foto segera kuminta agar dicetakkan segera dengan ukuran 3R.

                                 Hari demi hari kujalani dengan penuh semangat, foto kecil yang selalu kulampirkan disela lembaran bukuku dan kadang memandanginya dalam-dalam menimbulkan sejuta pertanyaan. Sore itu setelah shalat azhar kukirimkan sebuah pesan singakat untuknya aku berfikir mungkin kak keong adalah nama akrabnya jadi dengan jempol ku pencet tombol hpku.
“ kak keong…” pesan terkirim
“ iya…dimana kita tau nama sapaanku, bahagia rasanya mendengarnya” balasnya.
“ di foto profil” balasku kembali.


                                 Ucapan bahagia yang ia lontarkan seakan membuatku tidak putus harapan untuk mempertahankan hatiku untuknya. Malam ini begitu sunyi tak satu pesan pun aku terima, hanya suara jangkrik yang terdengar merdu, tak ada bintang dilangit, begitupun bulan tidak ada lagi untuk menerangi hatiku, kumulai merasakan dinginya malam kuberanjak dari dudukku dan masuk menuju kamarku akupun terlelap.


                                 Kesokan harinya pagi yang belum sempurna ku bersiap-siap untuk kesekolah dan memakai seragam putih abu-abu, kumelangkahkan kakiku menelusuri jalan tapak demi setapak dan akhirnya tiba di depan gerbang sekolah. Pelajaranpun berlansung seperti biasanya. Setiba di rumah kurebahkan badanku pada kasur menerpa bantal yang seakan sudah siap untuk menahanku, kuraih hpku dan mengirim pesan singkat untuknya tetapi ternyata pulsaku habis berusaha melawan rasa ngantukku dan meninggalkan kamarku yang pintunya dalam keadaan terbuka.
“ assalamu alaikum..bisa beli pulsa pak ??” sapaku di depan toko
“ iyah, sebut saja nomornya.” Katanya
“ 085255231***” jawabku
“ maaf saldoku habis” ucapnya


                                 Astaga tanpa berfikir panjang aku menunjuk sebuah kartu perdana yang berisikan pulsa, tidak apalah, aku memakainya untuk sementara aku hanya ingin mengetahui kabar dari dirinya, akhir-akhir ini iya jarang sekali memberiku kabar kata sibuk mempersiapkan ujian skripsi, tapi tetap saja hatiku meronrong untuk mendengar kabar darinya, akupun kembali kekamar mengaktifkan kartu itu dan menyapanya kembali melalui pesan singkat.
“ kak keong…
“ iyah deg Cipoet” balasnya


                                 Aku heran tidak biasanya ia memanggilku dengan sebutan itu semakin lama mencoba bertanya-tanya sebagai deg cipoet orang ia maksud itu bukan aku tapi orang lain.
Katanya “ jangan selalu marah-marah padaku, saya selalu berusaha menitipkan ucapan di kertas untukmu”. Sebuah kata-kata yang mampu menjawab semua pertanyaanku.
“ Keong Cipoet” kata yang bertuliskan disudut foto itu mengandung makna mendalam bagi mereka , ku mulai sadar tidak pantas hadir ditengah-tengah mereka, kataku aku hanya peri kecil yang kesepian. Harapanku aku hanya ingin di akui, itu saja tapi sekarang tidak lagi.

                                                                                                                  Kutipan 12 maret 2012

Selasa, 10 September 2013

"Awal Puncak"

Adzan telah dikumandangkan dan matahari telah terbenam, aku mulai memanjatkan doa pada yang Maha kuasa.

     Tak terasa hampir 3 tahun di kota kalong ini, jauh dari kampungku di pedalaman desa merasakan setiap detik demi detik udara. Numpang disalah satu rumah kerabat untuk menjangkau lokasi sekolah agar lebih dekat, dan bekerja untuk menutupi biaya sekolah, aku sangat bersyukur bisa tinggal dirumah ini yg membuatku  tidak terbebani akan biaya sewa rumah, tapi tinggal dirumah ibu toko bukanlah hal yang sulit, tapi itu yang terasa “anre temmasipaa tinro temmanyameng”...

    Ada rasa was-was dan takut yang menggeluti ketika suatu hal akan kulakukan, tugasku membantu membersihkan rumah, menjaga toko, mempersiapkan makanan dan mengerjakan semuanya. Sangat sulit bagiku untuk dapat membagi waktu untuk pelajaran di sekolah, bukan hanya itu hanya sesekali aku biasa bertemu dengan kedua orang tuaku bahkan jarang, setiap kali aku ingin pulang untuk melepas rindu tapi langkahku dihentikan 
“ tetaplah dirumah” Aku hanya terdiam dan meresapinya dalam-dalam, ingin rasanya melihat wajah ibu dan ayah tersenyum seakan memberiku energi untuk tetap semangat dan bersyukur menjalani semua ini.

    Tinggal beberapa bulan lagi awal dari perjuangan akan ku lalui ujian Nasional, aku harus bisa berawal dari sini masih banyak hal yang harus ku perjuangkan untuk membahagiakan mereka terkadang aku menyesal, kenapa aku tidak dilahirkan lebih dahulu? sedang diusia orangtuaku yg kini mulai lanjut, aku baru mengejar pendidikan dan belum focus bekerja, air mataku menetes, melewati pipi dan jatuh menerpa kerudung yang kukenakan, kumengusapnya  aku merasa tidak berhasil dengan semua ini uang saku yg ku tabung untuk mereka ketika aku pulang kadang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka, dan yang membuatku terasa perih ketika makananku disini tercukupi dengan lengkapnya sedangkan orangtuaku hanya ikan kering dan garam yang dengan lahapnya masuk di tenggorokannya.

     Semua itu mengajarkanku akan bagaimana hidup mandiri dan terus ingin berjuang untuk mereka tercinta dan mensyukurinya. ini hanya awal dari puncak aku harus berjuang untuk meraihnya. Keputusan yang begitu menentukan kedepannya, aku ingin kuliah tapi tidak semudah ucapan, tabunganku tidak cukup untuk itu aku ingin masuk di Universitas itu yang sudah lama kudambakan.“ tinggallah terus disini merawat semuanya kami akan menanggung biaya kuliahmu “ kata ibu toko

     Ucapan itu selalu mengusikku dia ingin menguliahkanku di sekolah tinggi yang jarak dari rumah hanya 200 meter. kampus yang alumninya sebagian besar menganggur dan merantau. Pendirianku mulai memudar mendengar kata itu seakan harapan yang selama ini akan sirna begitu saja dan harus pasrah mengikuti ucapan itu. Entah bagaimana persoalan ini hatiku sangat kuat untuk masuk di universitas itu ketika diriku mulai lelah dan akan pasrah seakan doaku terjawab...

   Allah telah mengirimkanku sesosok itu untuk meyakinkan akan keputusanku. setelah kedatangannya motivator muda mentransferkanku sebuah energi yang sangat luar biasa yang membuatku percaya kalau aku bisa melakukannya meskipun aku meninggalkan rumah ini dan memilih jalan untuk kuliah di universitas  yang biayanya dari 50 rupiah harus kucari sendiri.  Aku akan mencoba bekerja sambil kuliah akan ku tanamkan itu dalam diriku harapan, usaha, dan doa serta kuselesaikan dengan semaksimal mungkin dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan. aku ingin berkumbul bersama di rumah sederhana..Ibu, Ayah, Kakak, Aku dan adikku tertawa lepas, dengan keserdehaan yang tercukupi dengan upah hasil keringatku.